Google+

This Is Me.

Welcome to me

Hikayat Prang Sabiel

(Hikayat Perang fi sabilillah dalam semangat hidup Bangsa Aceh—sidenote)


Suatu masa Hikayat Prang Sabi (Perang Sabil) sebagai karya sastra penuh daya telah berperan penting menumbuhkan semangat nasionalisme mempertahankan tanah air dari serbuan musuh dan penjajahan atas dasar spiritual religius.

Namun segulir perjalanan dalam benak penikmatnya berangsur menjadi semangat baru yang mengenyampingkan semangat untuk memperjuangkan hidup serta setiap benih awal yang ingin dicoba tumbuhkan, berganti tempat menjadi semangat yang bergelora untuk mati dengan cara yang lebih mulia dan memperoleh sesuatu yang lebih menguntungkan menyertainya sesuai yang telah dijanjikan.

Keuntungan yang begitu abstrak berupa keyakinan gaib dan hanya dipahami oleh orang-orang yang benar-benar menjiwai pesan yang disampaikan melalui hikayat tersebut.

Silakan ditinjau bagaimana perubahan tersebut dengan jelas merubah Aceh pada masa-masa berikutnya.

Maka situasi yang berlangsung pada masa itu adalah peperangan antara manusia yang berharap untuk hidup versus manusia yang berharap untuk mati; singkatnya orang ingin hidup berperang dengan orang ingin mati.

Berbeda halnya jika perang antara sesama manusia untuk hidup. Mereka akan saling berperang untuk mendapatkan kehidupan atau mempertahankannya. Mereka akan melakukan apapun untuk hidup; termasuk melenyapkan segala yang mengancam kehidupannya. Jika mereka atau salah satu dari mereka hidup, otomatis mereka disebut ‘pemenang’.

Namun bagaimana ceritanya jika antara pihak yang ingin hidup beradu dengan pihak yang ingin mati?

Apakah cukup dengan membiarkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan?

Jika dilihat dari sudut pandang umum, jelas tercatat dalam sejarah siapa yang menang dan siapa yang telah kalah dalam perang-panjang Aceh. (Aceh War — Date: 1873–1904, Result: Dutch victory • Imposition of Dutch rule over Aceh, Territorial changes: Aceh is annexed into the Dutch East Indies —wikipedia). Namun berbeda ceritanya saat ditinjau dari markas masing-masing.

Pertanyaannya, siapakah pemenang itu?

Saya memberi opsi, “Pemenang adalah pecundang di pihak lawan”.


—Ben Nafi 11/2/2016

———————————

Lop :

1 komentar: