Google+

This Is Me.

Welcome to me

ADAB DAN ETIKA SISWA TERHADAP GURU

1.   Pengertian Etika
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

2. Etika siswa terhadap guru

1.    Hendaklah murid menghormati guru, memuliakan serta mengagungkannya karena Allah, dan berdaya upaya pula menyenangkan hati guru dengan cara yang baik.
2.     Bersikap sopan di hadapan guru, serta mencintai guru karena allah. 
3.     Selektif dalam bertanya dan tidak berbicara kecuali mendapat izin dari guru.
4.     Mengikuti anjuran dan nasehat guru.
5.     Bila berbeda pendapat dengan guru, berdiskusi atau berdebat lakukanlah    dengan cara yang baik,
6.     jika melakukan kesalahan  segera mengakuinya dan meminta maaf kepada guru.
Artinya:
Tidak boleh menuntut ilmu kecuali dari guru yang amin dan tsiqah (mempunyai kecerdasan kalbu dan akal) karena kuatnya agam adalah dengan ilmu”.

Adab seorang murid terhadap gurunya | Ilustrasi : djarumbeasiswaplus

3.    Adab seorang murid terhadap gurunya

1.    Berpakaian rapi dan sopan lagi bersih.
2.    Bersikap sopan santun dihadapan guru.
3.   Murid menanyakan  beberapa masalah penting bagi manusia seperti tentang aqidah, ibadah dan akhlak yang harus dilakukan selama hidup didunia ini.
4.   Hendaknya seorang murid menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara mereka, baik yang ditekuni itu termasuk ilmu dunia ataupun akhirat.Karena itu akan membingungkan akal dan pikirannya, dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan telaah mendalam.
5.   Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya.
6.   Hendaknya seorang tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus melainkan memulai dengan yang lebih mudah.
7.   Hendaklah seorang murid tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya.
8.   Hendaklah mengetahui faktor penyebab adanya ilmu yang mulia. Yang dimaksud adalah kemulian hasil, kekokohan dan kekuatan dalil.
9.   Hendaklah tujuan murid di dunia adalah semata-mata untuk menghias dan mempercantik hatinya dengan keutamaan, dan akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orangorang yang didekatkan (muqorrobin).
10. Hendaklah mengetahui kaitan dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi.

Dan juga perlu disadari, bahwa hormat dan patuh kepada gurunya bukanlah manifestasi penyerahan total kepada guru yang dianggap memiliki otoritas, melainkan karena keyakinan murid bahwa guru adalah penyalur kemurahan Tuhan kepada para murid di dunia maupun di akhirat. Selain itu juga didasarkan atas kepercayaan bahwa guru tersebut memiliki kesucian karena memegang kunci penyalur ilmu pengetahuan dari Allah. Dengan demikian, dalam kontek kepatuhan santri pada guru hanyalah karena hubungannya dengan kesalehan guru kepada Allah, ketulusannya, dan kecintaanya mengajar murid-murid.

1 komentar: